Guru... Jadilah Pelita Bagi Anak Yang Kehilangan Arah
Pagi ini saya dapat chat dari salah satu guru yang sedang mengajar di kelas. Chat yang mengabarkan tentang kondisi siswa di kelasnya. Ada salah satu siswa yang kita sebut saja namanya Habibi. “Pak. Habibi anaknya susah banget, nggak ada motivasi sama sekali”, begitu isi chatnya disertai dengan foto kondisi kelas yang memperlihatkan salah satu siswa sedang tidur, sementara yang lain mengerjakan soal latihan.
Ya… anak
ini pernah saya panggil secara khusus. Karena dalam beberapa kali TPM (Tes
Pendalaman Materi) untuk kelas IX sebagai persiapan TKA, dia selalu berada di
urutan paling bawah dari sekitar 200an siswa. Bukan hanya jeblok secara nilai,
tapi juga punya kebiasaan yang menurut para guru kurang baik, yaitu jahil ke
temen-temennya. Sehingga nama ini cukup populer lah di madrasah.
Dalam 2
tahun tugas saya di madrasah ini, saya memang punya kebiasaan memanggil siswa
ke ruang saya secara personal, untuk murid-murid yang secara kepribadian
bermasalah. Misalnya anak-anak yang terlalu sering terlambat, anak yang jarang
masuk karena alasan tertentu, dan termasuk kasusnya Habibi ini, anak yang
selalu berada di ranking bawah.
Saya tidak
pernah marah ke anak-anak yang saya panggil. Saya hanya ingin lebih mendalami
apa yang terjadi dari sisi yang lain, yang mungkin tidak ter-explor dari guru
Bk atau wali kelas. Juga sebagai penguatan bagi semua, baik guru maupun siswa.
Seingga ketika ketemu dengan murid ‘bermasalah’ di ruang saya, obroloannya
lebih santai sambil saya tawari cemilan yang ada.
Kembali ke
Habibi, diantara percakapan saya begini:
S : Saya
H: Habibi
S: Habibi,
biasanya setelah pulang sekolah kamu ngapain? (FYI, MTs kami pulang sekitar
pukul 14.30)
H: Paaling
tiduran sambil scrol-scrol HP pak.
S: Sampai
jam berapa begitu?
H. Sampai
Maghrib
S. Terus
bar maghrib ngapain?
H. Lanjut
scrol HP lagi sampai isya
S. Terus
habis isya ngapain?
H. Belajar
sebentar terus lihat HP lagi
S. Sampai
jam berapa?
H. Biasanya
jam 12
S. Kalo jam
12 baru tidur, jam berapa kamu bangun?
H. Biasanya
setengh 6 atau jam 6.
Saya agak
kaget ketika dia menjawab itu dengan tenang bahkan sambil senyum-senyum. Tapi
saya masih penasaran.
S. Kalo jam 6 baru bangun, kamu kan harus segera
sekolah. Terus, sholat subuh nggak?
H. Sering
kelewat pak (sambil ketawa)
S. Berarti sudah
sering nggak subuhan ya.
H. Iya pak
Obrolan
saya masih berlanjut, hingga kurang lebih 30 menit. Tapi dari sekian banyak topik
pembicaraan saya dengan Habibi, saya sedikit banyak bisa mengerti bahwa anak
ini tidak terbimbing dalam hidupnya. Bapak ibunya berpisah, Habibi ikut
bapaknya. Sementara tinggalnya hanya dengan
kakeknya. Apa yang dia dilakukan ketika sampai di rumah adalah sesuai
dengan keinginannya sendiri, entah itu benar atau salah. Tidur dan bangun jam
berapa pun tidak ada yang memperhatikan.
Saya
kemudian memeriksa daftar kehadiran orangtua/wali pada setiap pertemuan rutin.
Ternyata orangtuanya juga tidak pernah hadir. Bahkan ketika saya minta untuk datang
ke madrasah pun, tidak hadir, entah undangannya sampai atau tidak.
Terkadang banyak oknum guru di sekolah menganggap anak-anak seperti ini sebagai 'sampah', sehingga solusi paling mudah adalah dengan membuangnya, mengeluarkannya. Mereka lupa bahwa salah satu tugas guru adalah mendidik dan membimbing mereka ke arah yang lebih baik.
Beginilah
pemirsa… ada habibi-habibi lain di sekolah kita. Banyak anak yang berjuang
sendiri dalam menentukan masa depannya, tanpa ada orang terdekat yang harusnya
menjadi penunjuk arah perjalanannya. Sehingga kita yang di sekolah lah yang
harus menjadi pelita bagi mereka yang sedang berjalan dalam kegelapan.

Posting Komentar untuk "Guru... Jadilah Pelita Bagi Anak Yang Kehilangan Arah"