Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Melejitkan Madrasah Tahfidz dengan Strategi 'SUTIL HAMA JUMUR TUTOR'

Sesungguhnya kegiatan menghafal al-Qur’an atau Tahfidz di madrasah merupakan program mandatory dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta. Diitetapkan pada tahun 2015 dan mulai diimplementasikan secara masif dengan keluarnya silabus dan modul tahfidz pada tahun 2018, program tahfidz yang sudah dilaksanakan di beberapa madrasah ini belum menampakkan hasil yang menggembirakan.

           Tulisan ini sebagai lanjutan dari postingan sebelumnya yang berada di galeri kegiatan tentang wisuda tahfidz. Seperti yang saya tulis, wisuda tahfidz tahun 2022 adalah wisuda terbanyak yang pernah ada. Stratetegi baru yang kami laksanakan terkait pembelajaran tahfidz ternyata menampakkan hasil yang cukup menggemberikan. 



Target program tahfidz untuk jenjang MTs adalah hafal Juz 1 ketika lulus kelas IX. Namun menurut data dan wawanca dengan pengampu tahfidz di MTsN 2 Bantul, Eni Munawarah dan Isnan Rosyid (Juni 2021), siswa yang mencapai target hafalan di kelas VII dan VIII hanya sekitar 17% pada masa pandemi Covid-19 ini. Sedangkan untuk kelas IX hanya ada sekitar 11% siswa yang bisa menyelesaikan target hafalan 1 juz. Data capaian target dalam 3 tahun pelajaran terakhir adalah sebagai berikut:

Tahun Pelajaran

Jumlah siswa Kelas IX

Tuntas Tahfidz

Prosentase

2018/2019

160

35

21,8%

2019/2020

159

55

34,5%

2020/2021

161

18

11,9%

 

Dari data di atas, dapat kita ketahui bahwa pada saat pandemi covid-19 yang disusul dengan kebijakan pembelajaran jarak jauh, prosentase siswa yang dapat menuntaskan target hafalannya sangat rendah. Tahun pelajaran 2020/2021 adalah tahun dimana pandemi covid-19 terjadi, dan pembelajaran dilakukan secara daring. Selama 1 tahun penuh tidak terjadi pembelajaran tatap muka, karena para guru juga melaksanakan kebijakan Work From Home (bekerja dari rumah)

Beberapa kendala yang dihadapi madrasah dalam menjalankan program tahfidz pada masa pandemi ini diantaranya adalah;

1) mapel tahfidz hanya dijadwal 1 jam sepekan melalui daring. Hal ini karena mengikuti kebijakan pemerintah yang membatasi kegiatan pembelajaran siswa pada masa pandemi. Sehingga pengaturan jadwal dibuat minimalis.

2) program tahfidz hanya dibebankan kepada guru tahfidz. Dengan jumlah siswa sebanyak 490, tenaga guru tahfidz yang hanya berjumlah 3 orang sangatlah kurang, apalagi harus melakukan pembelajaran secara daring


Melihat kondisi itu penulis berinisiatif membuat terobosan dalam pelaksanaan program tahfidz ini dengan strategi Sutil Hama Jumur Tutor yang mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2021/2022 ini. Strategi ini mengatur keterlibatan orangtua/wali dan warga madrasah lainnya (selain guru tahfidz) lebih besar dalam program tahfidz ini. Sehingga program mandotori yang sudah menjadi program unggulan madrasah ini dapat didukung oleh seluruh  stake holder madrasah.

 

Strategi ini pada awalnya memang dimaksudkan untuk mengatasi pembelajaran tahfidz pada masa pandemi, namun pada akhirnya bisa juga diterapkan pada masa new normal. Sebab data sebelum pandemi pun menunjukkan bahwa target hafalan siswa juga masih rendah, dan penyebabnya pun sama, yaitu kurangnya keterlibatan semua pihak dalam program ini.

 

Apa itu Sutil Hama Jumur Tutor

Pada dasarnya seseorang hafal dengan sesuatu adalah karena terbiasa. Orang hafal rute suatu jalan  karena sering lewat. Seseorang hafal syair sebuah lagu karena sering menyanyikannya. Orang hafal surat al-Fatihah karena setiap sholat dibaca minimal 17 kali sehari, dan seterusnya.

Demikian juga menghafal al-Qur’an. Yang terpenting adalah sering membaca dan mengulang-ulang bacaan itu. Jika itu tidak dilakukan, maka akan sulit seseorang dapat menghafalkan al-Qur’an. Inilah kemudian yang mendorong penulis untuk menerapkan strategi Sutil Hama Jumur Tutor. Strategi ini mendorong siswa agar bisa senantiasa membaca dan mengulang-ulang ayat yang menjadi target hafalannya.

 

Sutil

Sutil adalah singkatan dari Subuh Tilawah. Kegiatan ini dilakukan pada waktu setelah sholat subuh. Pada kegiatan ini yang dilakukan adalah membaca. Hanya membaca saja tanpa menghafal. Namun aktivitas membaca ini dilakukan berulang-ulang hingga minimal 10 kali atau jika diukur waktu maksimal 30 menit. Yang dibaca adalah surat atau ayat yang menjadi target di kelasnya.


Hama

Hama singkatan dari Hafalan Maghrib. Kegiatan ini merupakan kegiatan menghafal ayat atau surat yang menjadi target hafalan pada setiap pekannya. Dengan target hafalan minimal hanya 3-5 ayat setiap pekan, sangat mungkin sekali akan dapat dicapai. Sebab kegiatan Sutil dan Hama ini dilakukan selama 4 hari, yaitu hari Senin-Kamis. Jika para siswa mengulang bacaan 3-5 ayat tersebut minimal 10 kali dalam 4 hari pada kegiatan Sutil, maka menghafal di waktu Maghrib tentu akan lebih mudah karena ayatnya sudah dibaca berulang-ulang.

Jumur

Jumur singkatan dari Jumat Murojaah. Kegiatan ini merupakan kegiatan mengulang-ulang semua hafalan yang sudah pernah dilakukan. Bisa dilakukan di waktu subuh maupun maghrib. Kegiatan murojaah dalam menghafal al-Qur’an ini sangat penting. Sebab tanpa murojaah yang terprogram, hafalan yang sudah pernah ada bisa lupa atau hilang. Menghafal itu mudah, namun mempertahankan hafalan itu yang sulit. Karena itu kita harus menetapkan waktu khusus untuk murojaah.

 

Tutor

Tutor singkatan dari Sabtu Setoran. Kegiatan ini dilakukan setiap hari Sabtu, dimana setiap siswa diminta untuk setoran hafalan kepada guru yang sudah ditunjuk sebagai guru penerima setoran hafalan.  Ayat atau surat yang disetorkan adalah ayat dan surat yang menjadi target di pekan itu. Jika waktu masih memungkinkan, bisa ditambah dengan ayat atau surat yang sudah dihafalkan pada minggu-minggu sebelumnya.

Guru yang menerima setoran atau guru tutor ini bukan saja diambilkan dari guru Tahfidz di madrasah, namun juga guru-guru mapel lain yang dipandang mampu untuk sekedar menyimak hafalan siswa. Sebab dengan siswa yang berjumlah 490, tidak mungkin dapat terlayani oleh 3 orang guru tahfidz.

Terdapat 15 rombongan belajar (rombel) di MTsN 2 Bantul dengan rata-rata setiap rombel 32 siswa. Setiap rombel dibagi 2 kelompok guru Tutor. Sehingga jumlah seluruh guru Tutor yang dibutuhkan adalah 30 orang.


Pelaksanaan Program

Strategi Sutil Hama Jumur Tutor  ini baru mulai diterapkan pada tahun pelajaran 2021-2022. Penggunaan strategi ini didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar waktu siswa itu di rumah, terutama di masa pandemi Covid-19 kemarin. Sehingga jika tidak ada dukungan dari lingkungan rumah untuk pelaksanaan program tahfidz ini, maka kecil kemungkinan akan berhasil. Karena itu 3 kagiatan dari strategi ini yaitu Sutil Hama dan Jumur  semua dilakukan di rumah dan dalam pantauan orangtua/guru mengaji. Siswa dibekali buku pantauan yang harus ditandatangani oleh pendamping selama melaksanakan kegiatan Sutil Hama dan Jumur.


Lalu apa peran guru tahfidz di madrasah?

Guru tahfidz di madrasah hanya mendapatkan bagian 2 jam/minggu di kelas tahfidz. Jika waktu yang hanya sedikit itu digunakan untuk menunggu hafalan siswa maupun setorannya, tentu akan banyak terbuang waktunya dan tidak semua siswa dapat tersentuh. Karena itu tugas guru tahfidz di madrasah dengan 2 jam/minggu itu adalah fokus pada Tahsin maupun Tashih bacaan siswa pada ayat maupun surat yang menjadi target hafalan siswa di kelasnya yang harus dapat dibaca oleh siswa dengan benar.


Hasil

Pada bulan Juni 2022 yang lalu adalah akhir tahun pelajaran 2021/2022, tepat setahun strategi Sutil Hama Jumur Tutor ini dilaksanakan. Bagaimana hasilnya? Menurut data pengampu tahfidz, dari seluruh siswa kelas IX yang berjumlah 160, sebanyak 158 (96,8%) siswa berhasil menyelesaikan hafalan juz 1. Hanya 2 siswa (3,2%) yang tidak berhasil menyelesaikan sampai akhir juz. Luar biasa !

Mas Guru
Mas Guru Pendidik & Pengajar di MTsN 1 Yogyakarta. Sebelumnya di : MTsN 2 Bantul MTsN 5 Bantul MTsN 7 Bantul

Posting Komentar untuk "Melejitkan Madrasah Tahfidz dengan Strategi 'SUTIL HAMA JUMUR TUTOR'"